Showing posts with label #AVENTBaby. Show all posts
Showing posts with label #AVENTBaby. Show all posts

Saturday, 17 February 2018 3 komentar

Philips Avent Manual Breastpump, A Review for my new Favorit Breastpump #TUMBloggersCompetition #AventSahabatBunda

Philips Avent Manual Breastpump ini ibarat kado yang datang disaat yang tepat dan benar-benar sangat bermanfaat buat saya. Usaha untuk memberi lebih banyak ASI jadi makin maksimal dengan Philips Avent Manual Breastpump terlebih karena saya belum pernah mencoba pompa manual dan saya merasa hasil pompa saya selama ini belum maksimal karena terhambat beberapa kendala..

Sedikit curhat,saya jadi teringat saat perjalanan dinas ke Kudus. Sebagai ibu menyusui tentunya kegiatan memompa sudah menjadi agenda rutin,karena saya menginginkan proses memompa yang cepat makanya saya pilih breastpump elektrik. Sebenarnya tidak ada masalah dengan pilihan pompa ini,namun ternyata ketika saya melakukan perjalanan Yogyakarta-Kudus PP barulah saya menyadari kalau memiliki pompa manual juga tak kalah penting karena kita tidak perlu repot-repot membawa banyak peralatan (kabel,charger,baterai) dan juga tak perlu khawatir kehabisan baterei . Saat dikantor dan dirumah pun kalau pakai pompa manual jadi tidak khawatir kalau tiba-tiba mati listrik.

Saya sangat beruntung karena sebelum ditugaskan untuk melakukan perjalanan berikutnya saya sudah mendapatkan Philips Avent manual Breastpump. Saya pun sudah tak sabar ingin segera mencobanya tapi tentunya tidak bisa langsung digunakan karena harus di steril dulu.

Pada postingan ini akan saya tuliskan ulasan tentang pengalaman saya selama menggunakan Philips Avent Manual Breastpump. 

Keunggulan Philips Avent Manual Breastpump
  1. Mudah digunakan tanpa perlu repot baca manual, tanpa perlu pengenalan terhadap karakter pompa mengenai settingan kecepatan dan hisapan, tidak perlu pencet tombol tertentu cukup gerakan tuas maka Alat bisa langsung bekerja,biarkan feeling kita yang mengatur sendiri
  2. Lebih cepat memancing LDR, mungkin karena bentuk lehernya yang pendek dan penghisap tepat diatas jadi proses hisapannya efektif memancing Let Down Reflex (LDR)
  3. Bantalan karet lebih tebal dan lebih empuk,ada penebalan bantalan karet (bentuknya jadi seperti motif bunga) yang memberikan rasa nyaman saat memompa rasanya jadi seperti dipijat


  4. Ringan,karena tidak ada adaptor,charger dan cadangan baterei yang harus ikut dibawa saat bepergian
  5. Tidak berisik, saat malam hari bisa memompa didekat si kecil tanpa perlu khawatir ada suara motor breastpump yang bisa membangunkan si kecil.
  6. Bisa memompa kapan saja dimana saja tanpa harus dekat-dekat saluran listrik atau beli banyak batere. 
  7. Posisi Memompa bisa diatur senyaman mungkin karena  tidak perlu membungkuk
  8. Bahannya aman karena sudah BPA Free 
  9. Mudah dirakit dan mudah dibersihkan
Dibalik semua keunggulannya terdapat kelemahan dari Philips Avent manual breastpump yaitu tidak bisa bergerak otomatis (Yaiyalah,namanya juga pompa manual :P) jadi gerakan memompanya diatur sendiri saja,kalau sudah terasa pegal ya berhenti dulu atau pindah ke tangan yang satunya lagi. Selain itu dalam masalah harga Philips Avent Manual Breast pump tergolong memiliki harga 'premium' namun itu sebanding dengan kualitasnya yang juga premium. Sesuai dengan istilah 'Ada harga, Ada barang'.

Biasanya tiap akhir pekan saya kesulitan memompa jika harus memompa sambil menyusui bayi karena si bayi  aktif menggapai kabel , selang breastpump serta benda-benda lain disekitarnya tapi sejak menggunakan Philips Avent manual breastpump hal tersebut bisa dihindari bahkan kegiatan memompa diakhir pekan bisa disiasati bersamaan dengan menyuapi ataupun meninabobokan karena saya lebih bebas bergerak bersama pompa manual tanpa ada kabel yang menjuntai. 

Dari hasil memompa menggunakan Philips Avent manual breastpump saya bisa menyisihkan sedikitnya 50 ml yang saya lakukan bersamaan sambil menyuapi bayi padahal biasanya ga pernah bisa pumping sambil nyuapin. Lumayan nambah stok ASI untuk dibawa ke daycare. Tapi kalau sedang penuh-penuhnya gak usah pake lama dalam 10 menit bisa langsung dapat full kapasitas 125ml
Hasil pumping pakai Avent manual breastpump :D


Sumber Gambar: Dokumen Pribadi, FP Philips Avent dan Google Image

Philips Avent Manual Breastpump, benar-benar solusi penyelamat ASI terutama bagi si kecil yang bundanya harus kembali bekerja,  saya pun tak ragu  untuk mempercayakan kebutuhan nutrisi si kecil  pada  produk inovatif dari Philips Avent.
#TUMBloggersCompetition  #AventSahabatBunda

Sunday, 18 January 2015 3 komentar

Philips Avent Manual Breastpump, A Review for my new Favorit Breastpump #TUMBloggersCompetition #AventSahabatBunda

Philips Avent Manual Breastpump ini ibarat kado yang datang disaat yang tepat dan benar-benar sangat bermanfaat buat saya. Usaha untuk memberi lebih banyak ASI jadi makin maksimal dengan Philips Avent Manual Breastpump terlebih karena saya belum pernah mencoba pompa manual dan saya merasa hasil pompa saya selama ini belum maksimal karena terhambat beberapa kendala.

Sedikit curhat,saya jadi teringat saat perjalanan dinas ke Kudus. Sebagai ibu menyusui tentunya kegiatan memompa sudah menjadi agenda rutin,karena saya menginginkan proses memompa yang cepat makanya saya pilih breastpump elektrik. Sebenarnya tidak ada masalah dengan pilihan pompa ini,namun ternyata ketika saya melakukan perjalanan Yogyakarta-Kudus PP barulah saya menyadari kalau memiliki pompa manual juga tak kalah penting karena kita tidak perlu repot-repot membawa banyak peralatan (kabel,charger,baterai) dan juga tak perlu khawatir kehabisan baterei . Saat dikantor dan dirumah pun kalau pakai pompa manual jadi tidak khawatir kalau tiba-tiba mati listrik.

Saya sangat beruntung karena sebelum ditugaskan untuk melakukan perjalanan berikutnya saya sudah mendapatkan Philips Avent manual Breastpump. Saya pun sudah tak sabar ingin segera mencobanya tapi tentunya tidak bisa langsung digunakan karena harus di steril dulu.

Pada postingan ini akan saya tuliskan ulasan tentang pengalaman saya selama menggunakan Philips Avent Manual Breastpump. 

Keunggulan Philips Avent Manual Breastpump
  1. Mudah digunakan tanpa perlu repot baca manual, tanpa perlu pengenalan terhadap karakter pompa mengenai settingan kecepatan dan hisapan, tidak perlu pencet tombol tertentu cukup gerakan tuas maka Alat bisa langsung bekerja,biarkan feeling kita yang mengatur sendiri
  2. Lebih cepat memancing LDR, mungkin karena bentuk lehernya yang pendek dan penghisap tepat diatas jadi proses hisapannya efektif memancing Let Down Reflex (LDR)
  3. Bantalan karet lebih tebal dan lebih empuk,ada penebalan bantalan karet (bentuknya jadi seperti motif bunga) yang memberikan rasa nyaman saat memompa rasanya jadi seperti dipijat


  4. Ringan,karena tidak ada adaptor,charger dan cadangan baterei yang harus ikut dibawa saat bepergian
  5. Tidak berisik, saat malam hari bisa memompa didekat si kecil tanpa perlu khawatir ada suara motor breastpump yang bisa membangunkan si kecil.
  6. Bisa memompa kapan saja dimana saja tanpa harus dekat-dekat saluran listrik atau beli banyak batere. 
  7. Posisi Memompa bisa diatur senyaman mungkin karena  tidak perlu membungkuk
  8. Bahannya aman karena sudah BPA Free 
  9. Mudah dirakit dan mudah dibersihkan
Dibalik semua keunggulannya terdapat kelemahan dari Philips Avent manual breastpump yaitu tidak bisa bergerak otomatis (Yaiyalah,namanya juga pompa manual :P) jadi gerakan memompanya diatur sendiri saja,kalau sudah terasa pegal ya berhenti dulu atau pindah ke tangan yang satunya lagi. Selain itu dalam masalah harga Philips Avent Manual Breast pump tergolong memiliki harga 'premium' namun itu sebanding dengan kualitasnya yang juga premium. Sesuai dengan istilah 'Ada harga, Ada barang'.

Biasanya tiap akhir pekan saya kesulitan memompa jika harus memompa sambil menyusui bayi karena si bayi  aktif menggapai kabel , selang breastpump serta benda-benda lain disekitarnya tapi sejak menggunakan Philips Avent manual breastpump hal tersebut bisa dihindari bahkan kegiatan memompa diakhir pekan bisa disiasati bersamaan dengan menyuapi ataupun meninabobokan karena saya lebih bebas bergerak bersama pompa manual tanpa ada kabel yang menjuntai. 

Dari hasil memompa menggunakan Philips Avent manual breastpump saya bisa menyisihkan sedikitnya 50 ml yang saya lakukan bersamaan sambil menyuapi bayi padahal biasanya ga pernah bisa pumping sambil nyuapin. Lumayan nambah stok ASI untuk dibawa ke daycare. Tapi kalau sedang penuh-penuhnya gak usah pake lama dalam 10 menit bisa langsung dapat full kapasitas 125ml
Hasil pumping pakai Avent manual breastpump :D


Sumber Gambar: Dokumen Pribadi, FP Philips Avent dan Google Image
Philips Avent Manual Breastpump, benar-benar solusi penyelamat ASI terutama bagi si kecil yang bundanya harus kembali bekerja,  saya pun tak ragu  untuk mempercayakan kebutuhan nutrisi si kecil  pada  produk inovatif dari Philips Avent.
#TUMBloggersCompetition  #AventSahabatBunda

Wednesday, 24 December 2014 0 komentar

Harapan terkumpulnya (lebih banyak) tetes-tetesan ASI

Sebagai ibu baru yang belum pengalaman dan kurang pengetahuan,saya pikir menyusui adalah proses alami yang PASTI bisa dilalui dengan lancar,mudah dan nyaris tanpa masalah. Tadinya saya pikir semua ibu yang melahirkan normal tanpa tindakan operasi, vacum atau tindakan bantuan lainnya bisa memiliki ASI yang lancar melimpah karena sudah di 'setting' otomatis bersamaan dengan kehadiran bayi yang datang secara lancar dan normal,ternyata angggapan saya itu tidak sepenuhnya benar,malah teman saya yang melahirkan secara operasi caesar bisa memiliki ASI yang cukup untuk  periode ASIX,S1 dan S2 selesai. Berikut saya ceritakan pengalaman dan permasalahan yang saya temui saat berjuang memberikan ASI pada bayi saya.

Masalah yang saya hadapi saat memberi ASI diantaranya :
  1. ASI baru keluar pada hari ke 7 setelah melahirkan padahal saya sudah banyak makan sayur dan minum air putih. Sedangkan menurut riset,bayi hanya bisa bertahan tanpa asupan apapun selama 72 jam pertama saja. Alhasil pada saat usia bayi 2 hari, bayi saya menangis sangat keras sampe jerit-jerit, Karena kasihan melihat bayi saya kelaparan akhirnya dengan terpaksa selama 7 hari pertama bayi saya minum sufor :(
  2. Kurangnya Informasi dan pengalaman, walaupun jaman sekarang ini sudah banyak info dari berbagai media baik lisan,cetak ataupun online tapi kondisi setiap orang berbeda-beda, tips menyusui dari seorang ibu belum tentu cocok untuk ibu lainnya.
  3. Salah paham, banyaknya mitos tentang prosedur memberi ASI membuat saya bingung, belum lagi pendapat beberapa pihak terutama dari pihak orang tua yang merasa lebih berpengalaman. Kebanyakan dari mereka mempermasalahkan tentang pompa ASI, katanya pompa ASI bisa merusak jaringan. Saya juga sempat dilarang untuk menabung ASIP katanya menabung ASIP bisa mengurangi 'jatah' minum ASI Bayinya, padahal menurut yang baca semakin banyak permintaan ASI maka produksi ASI akan makin bertambah. Saya disarankan untuk memerah ASI saat sudah bekerja saja, tapi cara ini justru malah membuat saya jadi tidak tenang karena kejar-kejaran.Target saya yang hanya ingin menyimpan 1 botol ASIP/hari selama cuti akhirnya gagal total.
  4. Menentukan cara memompa ASI. Beberapa pihak menyarankan saya supaya memompa secara alami tanpa alat bantu katanya sih supaya lebih hemat,aman dan merangsang produksi ASI supaya melimpah, tapi yang ada kulit saya jadi merah-merah sedikit berdarah karena tergores,mungkin teknik memijat yang saya lakukan belum tepat. Akhirnya saya putuskan untuk membeli pompa ASI (saya punya 2 pompa, Pompa Elektrik dan Elektrik semi manual) tapi hasilnya belum memuaskan, ASI saya saat ini hanya mentok di 300ml padahal bayi saya minumnya 600ml
  5. Masalah Working Mom yang harus kembali kerja setelah cuti. Masalah yang saya alami setelah kembali bekerja adalah kurang nyamannya memompa, pertama karena tidak ada ruangan khusus dan kedua karena sungkan jika terlalu sering dan terlalu lama memompa apalagi jika kondisi di kantor sedang banyak pekerjaan
Pumping di kantor, perlu beberapa kali pumping supaya botol bisa terisi penuh
Sering saya dengar katanya cara memompa/memerah ASI itu cocok-cocokan, ada yang sukses dengan pompa manual,elektrik bahkan ada yang cuma mengandalkan tangan kosong yang bersih saja sudah berhasil dapat ASI melimpah. Untuk menemukan cara yang cocok tersebut dibutuhkan waktu Trial and Error  yang beda pada setiap orang. Saya termasuk salah satu orang yang sulit menemukan cara yang jitu untuk memperbanyak ASI,sampai saat ini pun saya masih berharap dan berusaha supaya saya bisa memberikan lebih banyak ASI untuk bayi saya.


Foto Bekal ASIP Paling banyak (untuk dibawa ke daycare tiap hari) 
sayangnya tidak sampai mencukupi separuh kebutuhan ASI bayi saya
sebelum MPASI Total minum  +/-10 Botol, setelah MPASI +/- 6 Botol

Usaha yang sudah saya lakukan untuk memperbanyak ASI diantaranya adalah :
  1. Membeli breast pump, pada awalnya saya punya 2 pompa, Pompa Elektrik dan Elektrik semi manual tapi hasilnya belum sesuai harapan walaupun sudah saya usahakan memompa sebanyak 3 kali selama dikantor (saat itu cuma pompa manual yang belum saya coba).
    Karena belum menemukan cara yang 'Klik' untuk mengejar produksi ASI,saya sempat berpikir untuk membeli sebuah pompa ASI baru yang jenisnya belum pernah saya coba yaitu pompa ASI Manual.

    Setelah hampir putus asa akhirnya saya pun memilih untuk menggunakan  3 (tiga) macam pompa asi yang saya gunakan secara bergantian, yaitu:

  • Pompa ASI elektrik, sangat nyaman digunakan karena ASI bisa terkumpul tanpa harus menekan tuas pompa ASI, yang penting tersedia arus listrik atau  baterei.
  • Pompa ASI Semi elektrik , bentuknya lebih simpel dan jumlah batere yang  digunakan lebih sedikut  daripada pompa yang elektrik
  • Pompa ASI Manual, sangat cocok untuk perjalanan karena tak perlu khawatir   akan tersedianya listrik ataupun kehabisan batere

  1. Minum booster ASI, berbagai jenis obat pelancar ASI sudah pernah saya coba dari yang cara kimia dengan obat berbentuk Kapsul, teh, maupun dengan cara tradisional seperti banyak minum air dan makan sayuran hijau sampai minum jus pare pernah saya coba. Lumayan berhasil, meskipun masih belum signifikan jika dibandingkan dengan porsi minum ASI bayi saya.
  2. Mengunjungi Klinik Laktasi,menurut konselor yang saya kunjungi pelekatan bayi saya sudah bagus, cuma sayangnya sepulang dari klinik laktasi saya belum menemukan  yang berarti. Tadinya saya pikir di klinik laktasi saya akan diajarkan memerah ASI secara praktek langsung (terbayang disana akan diajarkan berbagai macam teknik baik dengan bantuan pompa ataupun manual dengan tangan kosong). Ternyata kenyataannya saya sedikit kecewa karena ternyata disana saya hanya seperti tanya jawab saja, praktek memerah hanya terorinya saja yang disimulasikan pada boneka berbentuk PD.

    Mengunjungi klinik laktasi bisa dilakukan untuk menambah wawasan dari sudut pandang tenaga medis tentang menyusui supaya tidak terlalu terjebak mitos.
  3. Manajemen waktu pumping ASI, walaupun di tempat kerja saya belum ada ruang ASI bukan jadi halangan untuk pumping ASI di kantor, saya bisa memanfaatkan ruangan/gudang yang  ada dan kosong atau jika saya sedang sibuk dengan pekerjaan saya bisa langsung pumping di meja kerja, dengan berbekal pompa elektrik supaya tangan saya bisa bebas bekerja dan apron ataupun rukuh/mukena supaya pumping lebih tertutup aman.

  4. Menciptakan kenyamanan saat menyusui, saya sangat suka menyusui sambil mendengarkan radio atau jika ingin lebih santai saya  menyusui sambil  tiduran karena saya dan bayi bisa sama-sama tertidur , meskipun cara ini belum tentu cocok bagi semua, tapi ini cukup bermanfaat bagi saya karena saya bisa menyusui tanpa merasa lelah, jadi saya masih bisa bangun tengah malam untuk pumping.

  5. Membangun 'Mood' saat pumping, kadang hasil pumping bisa banyak tapi kadang-kadang cuma sedikit, saat-saat seperti ini mungkin bunda perlu 'mood booster' yang dapat meningkatkan produksi ASI, mood booster tersebut mungkin berupa cemilan, film favorit, atau bahkan foto,pakaian dan atribut si kecil yang lainnya. seperti pengalaman teman saya yang selalu pumping dengan membawa foto dan minyak telon milik bayinya.
  6. Tetap Semangat dan berpikir positif, Tidak membandingkan apalagi berkecil hati jika hasil ASI kita tidak sebanyak ASI bunda-bunda lainnya. Berapapun jumlah ASI yang dihasilkan jangan pernah menyerah karena meskipun ASI yang dihasilkan tampak sedikit saat di pompa tapi kita tak akan pernah tahu dan tak akan bisa memastikan sebanyak apa ASI yang telah diminum bayi kita, siapa tahu jika ternyata ASI yang diminum bayi kita secara langsung jumlahnya malah lebih banyak daripada dipompa oleh alat.

    Sedikit ataupun banyak, ASI tetap bermanfaat untuk Bayi karena ASI bukan masalah kuantitas tapi kualitas. Oleh karena itu sayapun terus memberikan ASI hingga usianya cukup untuk disapih. Saat ini si kecil sudah berhasil di sapih saat usia 2 Tahun.